the algorithmic shelf life

mengapa konten yang kita buat hari ini sudah basi dalam 24 jam

the algorithmic shelf life
I

Pernahkah kita menghabiskan waktu berjam-jam meracik sebuah mahakarya? Mungkin itu sebuah video pendek, esai opini, atau ilustrasi digital yang detailnya bikin mata perih. Kita menekan tombol publish dengan deg-degan. Tiba-tiba, notifikasi meledak. Likes, komentar, dan share berdatangan. Kita tidur dengan senyum lebar, merasa diakui dunia. Namun, saat kita bangun keesokan harinya, sepi. Angka analitik mendadak datar. Tidak ada lagi interaksi. Karya yang semalam terasa seperti penemuan abad ini, hari ini resmi menjadi artefak kuno. Rasanya menyedihkan, sekaligus membuat kita bertanya-tanya: mengapa apresiasi digital menguap begitu cepat?

II

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Secara historis, umur sebuah karya manusia itu panjang. Sebuah buku yang ditaruh di rak perpustakaan pada tahun 1920 masih bisa ditemukan dan dibaca oleh seseorang di tahun 2024. Lukisan dipajang berabad-abad. Dulu, karya memiliki ruang fisik untuk bernapas. Namun, otak kita sebenarnya menyimpan sebuah kerentanan purba. Dalam psikologi evolusioner, ada istilah novelty seeking atau pencarian kebaruan. Otak nenek moyang kita didesain untuk menyukai hal-hal baru di lingkungannya. Kenapa? Karena menyadari perubahan di sekitar adalah kunci bertahan hidup. Sesuatu yang baru bisa berarti sumber makanan yang segar, atau sebaliknya, ancaman predator yang mengintai. Setiap kali kita menemukan hal baru, otak menyemprotkan dopamine, si molekul motivasi. Mesin-mesin teknologi modern tahu persis kelemahan biologis kita ini. Mereka mengambil konsep perpustakaan yang tenang, dan mengubahnya menjadi pasar malam yang tak pernah tutup.

III

Masalahnya, jika otak kita secara alami memang cepat bosan, apakah wajar jika karya kita mati dalam semalam? Tunggu dulu. Di sinilah ceritanya menjadi sedikit gelap. Kematian instan konten kita bukanlah murni salah rentang perhatian manusia yang memendek. Ada campur tangan tak kasat mata yang bekerja di balik layar ponsel kita. Setiap platform tempat kita bermain memiliki apa yang disebut sebagai algorithmic shelf life, atau masa kedaluwarsa algoritmik. Coba teman-teman perhatikan. Di TikTok, umur sebuah video mungkin hanya beberapa jam. Di Twitter, sebuah cuitan tenggelam dalam hitungan menit. Di Instagram, sebuah post mungkin bertahan 24 jam sebelum dianggap usang. Siapa yang menentukan batas waktu ini? Apakah karya kita tiba-tiba menjadi jelek dan tak layak konsumsi begitu matahari terbit? Ataukah ada sebuah sistem raksasa yang memang sengaja membunuh karya kita agar kita kelaparan?

IV

Inilah kenyataan pahit yang harus kita telan. Algoritma tidak punya empati, dan ia sama sekali tidak peduli pada kualitas seni kita. Secara sains komputasi, algoritma media sosial dibangun di atas model predictive behavior (prediksi perilaku). Tujuan utama mereka hanya satu: retention, alias menahan mata pengguna selama mungkin di layar. Untuk mencapai ini, algoritma menggunakan metrik bernama velocity atau kecepatan interaksi. Jika dalam satu jam pertama konten kita mendapat banyak reaksi, algoritma akan mendorongnya ke lebih banyak orang. Tapi, mesin ini harus terus menyajikan hal baru agar dopamin pengguna tetap terpacu. Jadi, umur konten yang pendek bukanlah sebuah bug atau kecacatan sistem, melainkan fitur utama yang disengaja. Mesin ini butuh karya kita cepat basi. Jika konten lama terus beredar, pengguna akan bosan. Lebih parah lagi, dengan membuat konten kita cepat "mati", platform secara psikologis memaksa kita—para pembuat konten—untuk terus memproduksi karya baru. Kita diletakkan di atas treadmill tanpa tombol berhenti. Kita menjadi buruh pabrik yang dibayar dengan dopamin palsu, memproduksi bahan bakar gratis untuk mesin raksasa.

V

Menyadari hal ini rasanya memang melelahkan. Tapi bagi saya, pemahaman ini justru melegakan. Mengetahui cara kerja mesin membuat kita bisa berhenti menyalahkan diri sendiri. Saat konten kita sepi keesokan harinya, itu bukan berarti kita tidak berbakat. Itu sekadar siklus matematika dingin yang sedang bekerja. Lalu, bagaimana kita bertahan tanpa kehilangan kewarasan? Jawabannya adalah dengan menolak bermain sepenuhnya dengan aturan mereka. Kita bisa mulai membangun ruang kita sendiri. Menulis di blog pribadi, membuat newsletter, atau menciptakan karya yang punya nilai evergreen—karya yang tetap relevan dibaca tiga tahun lagi, bukan cuma tiga detik dari sekarang. Mari kita perlakukan media sosial hanya sebagai etalase sementara, bukan sebagai perpustakaan utama kehidupan kita. Pada akhirnya, kita adalah manusia yang sedang bercerita kepada manusia lain, bukan sekadar data yang mengantre untuk dikunyah oleh algoritma. Mari berkarya dengan tenang, teman-teman, karena nilai sejati dari apa yang kita buat tidak pernah ditentukan oleh masa kedaluwarsa 24 jam.